Feeds RSS

Selasa, 28 Agustus 2012

Ku Ingin Kau Untukku


Argha tak pernah menyadari, kapan rasa itu telah datang? Yang ia tahu hanyalah, rasa bahagia saat melihat senyum manis Pungky, terbayang selalu hangat candanya, serta debaran hati yang kian tak menentu kala dekat dengannya. Tersirat tanya mungkinkah ia untukku?
       Kala Argha merenung, bayangan tentang hari-hari yang sudah ia lalui bersama Pungky kembali terbayang. Masa-masa bercanda bersama, bahkan mengenang hal-hal yang sangat kecil sekalipun. Tak jarang Argha sering terlihat tersenyum sendiri tanpa maksud yang jelas. Apakah ia telah jatuh cinta?

Sempurna



Seharusnya Adin merayakan kebahagiaannya. Ia baru saja mendapatkan pacar baru. Tapi entah apa yang terjadi, ia malah tak menyukai keadaan ini. Tadinya ia adalah seorang gadis biasa, sampai akhirnya Regha menjadi pacarnya, membuatnya dalam sekejap naik daun.
       Yang terkenal sebenarnya bukanlah Adin, melainkan Regha. Tak dapat disangkal Regha memang tipe lelaki idaman, segalanya ia punya. Kecakepan, kekayaan, ketenaran, tak heran jika Regha selalu dikelilingi banyak fans. Itulah yang membuat Adin tidak merasakan kenyamanan. Kemanapun ia berada seolah banyak mata menatapnya sadis, dengan pandangan iri, mencela, serta merendahkan.

Dilema


Sekali lagi Reihan menanyakan hal sama. Aku masih saja bimbang tak tahu harus berkata apa. Aku dan dia duduk berhadapan di taman belakang rumahku. Kupandangi langit, penuh bintang berpijar. Cahaya bintang berikan cahaya temaram, namun hatiku tetap saja tak mampu menemukan titik terang.
       “Apakah kamu masih belum bisa membuka hati?” tanya Reihan sekali lagi.
       Dan hatiku kembali meragu. Untuk yang kesekian kalinya, ia ungkapkan rasa itu, namun aku belum juga memberinya jawaban. Aku tak mampu menjawab antara menolak ataukah menerima cintanya.
       Aku tak ingin menerima karena hati ini masih meragu, dan aku tak pula ingin menolaknya karena jauh di dasar lubuk hatiku, aku meginginkannya. Namun aku juga tak mampu jika harus membuatnya menunggu. Butuh berapa banyak waktu lagi? Dan apakah Reihan akan masih tetap setia menungguku sampai kumantapkan hati.

Serpihan Hati


                                 ♥Y  Serpihan Hati   Y♥
                                           Y                                                     Y

                     

Aku menyadari memang akan seperti ini jadinya. Kuharus menunggu lagi dan lagi. Kadang rasa lelah ini memaksaku untuk berhenti menanti, menghapus segala mimpi dan anganku untuk memilikinya, namun ku tak mampu. Karena…ku sudah terlanjur terjebak dalam kisah yang sama sekali tak kuketahui bagaimana akhirnya nanti, dan memaksaku untuk tetap bertahan, menunggu waktu yang kan menjawab semuanya.

Ku Tak Pernah Pahami


Cinta itu rumit...
Cinta itu membingungkan...
Cinta itu serba salah...
Diungkapkan salah...
Dipendam terasa sakit...

Aku lelah sekali jika membicarakan masalah cinta. Karena cinta tak akan ada habisnya untuk diceritakan. Dan dari sekian banyak cerita, aku tak pernah sekalipun merasakan kisah cinta yang membahagiakan, tak pernah sekalipun! Kisah cintaku selalu saja seperti ini setiap harinya. Hanya mampu menatapnya dari kejauhan, memujanya dalam diam, dan selalu penuh harapan-harapan yang tak akan pernah terwujud setiap harinya.

Senin, 27 Agustus 2012

Bunga Keabadian

*Ini adalah cerpen pertamaku yang dimuat di majalah sekolah SMAN 2 Malang Sketsa Vol 6 November 2006. Walaupun masih cupu tulisannya tapi berkat cerpen yang dimuat ini memberikan semangat buatku dan memberanikanku untuk terus bermimpi menjadi penulis.


Aku melihat bunga di halaman rumahku tampak layu. Hari ini aku mendengar sebuah kabar baik dn kabar buruk. Kabar baiknya aku naik kelas, kabar buruknya aku harus berpisah dengan Chika dan Vinny. Mereka tetap satu kelas, sedangkan aku di kelas yang berbeda dengan mereka. Jujur saja aku merasa tersisih, walaupun mereka berkali-kali mengatakan perbedaan kelas tak jadi masalah, kami tetap bersahabat. Namun tetap saja aku kecewa. Dalam hatiku bertanya-tanya kenapa harus aku yang terpisah sendiri.

Minggu, 26 Agustus 2012

'Ruang Rindu' Kembali Mengumpulkan Kepingan Mimpi

*cover novel 'Ruang Rindu' yang kuikutkan dalam lomba resmi rilis di oheuncha.blogspot.com. Berbekal photoshop dan gambar di google, saya mencoba membuat ilustrasi cover calon novel saya sendiri.



Rasanya sudah sekian lama aku tak lagi menggoreskan tinta penaku pada sebuah lembaran kertas. Rasanya lama sekali aku terpuruk karena kegagalan sehingga membuatku takut untuk kembali berkarya. Lalu kurasakan dorongan kuat pada diriku bahwa aku rindu menulis, rindu berkhayal, rindu menikmati sensasi ketika aku merangkai kata demi kata, bab demi bab hingga terbentuklah suatu rangkaian cerita. Tapi sekali lagi aku belum punya cukup keberanian. Ditambah kesibukanku sebagai mahasiswa semester akhir yang disibukkan oleh tugas-tugas yang semakin banyak setiap harinya sehingga manajemen waktuku untuk menulis sangat berantakan.

Sinopsis 'Ruang Rindu' Chapter 2


Entah ada angin dari mana yang membuat mama dan papa Lexa meneleponnya, mengajaknya makan malam di sebuah restaurant ternama. Hal yang sangat jarang mereka lakukan. Dalam hati Lexa dipenuhi tanda tanya besar. Apa yang mereka inginkan darinya? Segala macam pikiran buruk berkelebat.

Sinopsis 'Ruang Rindu' Chapter 1


Lexa melangkah perlahan menelusuri sudut galeri, menikmati keindahan seni pameran lukisan karya pelukis-pelukis muda. Beragam aliran lukisan yang dipamerkan, masing-masing lukisan menyimpan karakteristik keindahan tersendiri. Di tengah menikati mahakarya, kedua mata Lexa terpaku pada sebuah lukisan keluarga. Di dalam sana terlukis seorang ayah, ibu dan anak kecil tertawa riang menikmati piknik di sebuah taman. Ketiganya tertawa riang. Tanpa ia sadari kedua tangannya meraih lukisan itu, merabanya sesaat, lalu tersenyum getir ketika menyadari bahwa dia tak lagi punya keluarga, ayah dan ibu yang dia rindukan kini sudah berbahagia dengan kehidupannya masing-masing. Tinggallah Lexa bertemankan sepi, karena kemanapun ia mencari kebahagiaan, ia tak pernah dapatkan. Karena baginya satu-satu kebahagiaan adalah kembali memiliki keluarga yang utuh. Ayah dan Ibu yang bersedia mencurahkan segala kasih sayangnya kepada Lexa. Ayah dan Ibu yang selalu mendukung dan memberi semangat ketika Lexa jatuh. Ayah dan Ibu yang selalu memberinya nasehat tentang kehidupan. Sayangnya, Lexa tak pernah mendapatkan semua itu.

Sinopsis 'Ruang Rindu'

           Di sebuah galeri, Lexa tersentuh melihat sebuah lukisan berjudul “Ruang Rindu”. Di dalam lukisan itu tergambar tanah lapang menghijau dipenuhi bunga edelways, di sudut gambar tergambar sosok cewek yang tak nyata, hanya berupa bayang. Lukisan itu seolah bercerita tentang kerinduan yang mendalam, namun sosok cewek yang dirindukan seolah hanya berupa bayang-bayang tak terjangkau. Lexa menatap lukisan itu lekat dan lama seolah ia juga merasakan hal yang sama. Dia merindukan kasih sayang, hal yang abstrak dan tak terjangkau. Disudut lukisan itu tertulis judul dan nama si pelukis. “Ruang Rindu” by Aditya.